Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

RENUNGAN HARIAN

[ DEPAN ] [ BIOGRAFI ] [ KONTAK ] [ FOTO ] [ LIRIK LAGU ] [ SEPUTAR NIAS ] [ ARTIKEL ] [ RENUNGAN ] [ KARYA TULIS ] My Files

RENUNGAN HARIAN 2007

Jumat, 01 Juni 2007
Ayub 16:1-5

IKUT MENDERITA

Menangislah dengan orang yang menangis

(Roma 12:15)

Dari cara teman-teman Ayub berusaha menghiburnya, kita mempelajari prinsip dasar tentang menghibur sesama yang sedang dalam penderitaan: kemampuan seorang penghibur untuk membantu tidak tergantung pada bakatnya berkata-kata, tetapi pada bagaimana ia mau bersimpati dengan orang yang menderita. Pengertian semacam itulah yang diharapkan Ayub saat teman-temannya berusaha menasihati dia.

Dr. Paul Brand mengungkapkan kebenaran ini dengan indah dalam bukunya Fearfully and Wonderfully Made. Ia menulis: "Ketika saya menanyai para pasien dan keluarga mereka: `Siapakah yang dapat menolong Anda dalam menghadapi penderitaan ini?' Saya mendapatkan jawaban yang aneh. Orang yang digambarkan justru pribadi yang tidak luwes berbicara, yang tidak berkepribadian menarik, ataupun riang gembira. Orang yang diharapkan justru adalah orang yang pendiam, penuh pengertian, yang lebih banyak mendengarkan daripada berbicara, yang tidak menghakimi atau bahkan memberi banyak nasihat. `Seseorang yang sabar.' `Seseorang yang ada ketika saya membutuhkannya.' `Tangan yang mau digenggam.' `Pelukan yang penuh pengertian.' `Seseorang yang mau berbagi rasa.'

Kadang-kadang ketika kita berusaha keras mengatakan hal yang tepat untuk orang yang hendak kita hibur, kita lupa bahwa bahasa perasaan dapat berbicara jauh lebih banyak daripada kata-kata. Ada kalanya hal terbaik yang dapat kita lakukan ialah "menangis dengan orang yang menangis" (Roma 12:15). Menolong sesama yang ada dalam kesukaran dimulai ketika kita ikut merasakan penderitaan mereka (2 Kor 1:3,4) – MII

Sabtu, 02 Juni 2007

Mazmur 121

MELAYANGKAN MATA

Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung;

dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN

(Mazmur 121:1,2)

Seorang wanita yang karena pekerjaannya harus terus-menerus membaca, mulai mengalami masalah dengan matanya. Ia pun berkonsultasi pada dokter. Setelah diperiksa dokter berkata, "Mata Anda hanya lelah; Anda perlu mengistirahatkan mata Anda."

"Tapi, pekerjaan saya tidak memungkinkan hal itu" kata si wanita .

Selang beberapa saat dokter bertanya, "Apakah tempat kerja Anda ada jendelanya?"

"Iya," jawabnya dengan bersemangat. "Dari jendela depan saya dapat melihat kemegahan puncak Blue Ridge Mountains, dan dari jendela belakang saya dapat melihat pesona kaki bukit Allegheny."

Dokter menjawab, "Nah, itulah yang sesungguhnya Anda butuhkan. Ketika mata Anda terasa lelah, pandanglah pegunungan itu selama 10 menit, lebih baik lagi 20 menit. Dengan memandang kejauhan mata Anda akan beristirahat!"

Kebenaran dalam hal kesehatan jasmani ini juga dapat berlaku dalam hal rohani. Mata jiwa kita sering kali juga kelelahan karena kita banyak memfokuskan diri pada masalah dan kesulitan. Namun dengan memandang ke atas, memandang jauh, perspektif rohani kita akan dipulihkan.

Ada kalanya kita merasa tercengkeram oleh persoalan hidup. Namun ketika kita memandang kepada Tuhan melalui firman dan doa, Dia akan menolong kita memandang permasalahan dengan cara pandang yang benar dan memperbarui kekuatan kita. Mari kita layangkan mata kita kepada Allah! (Maz 121:1) - HGB

UNTUK MENDAPATKAN FOKUS ROHANI YANG BENAR

ARAHKAN MATA ANDA KEPADA TUHAN

Minggu, 03 Juni 2007

Yehezkiel 33:23-33

PENDENGAR DAN PELAKU

Mereka mendengar apa yang kau ucapkan, tetapi mereka sama sekali Tidak melakukannya

(Yehezkiel 33:32)

Ada seorang pria yang rajin pergi ke gereja. Ia suka mendengar khotbah yang bagus dan mendiskusikan kebenaran Alkitab. Ia dan keluarganya setia mengikuti kebaktian dua kali setiap hari Minggu. Namun di rumahnya, pria ini adalah seorang yang kejam. Bahkan ia pernah memukul istrinya.

Ketika mengetahui hal ini, pendetanya mencoba berbicara dengannya. Ia memperingatkan bahwa jika pria itu terus melakukan kekerasan, suatu kali kelak ia akan menjadi orang yang kesepian dan tidak dicintai. Namun teguran itu tidak dihiraukan.

Akhirnya, istrinya meninggalkannya dan para putrinya yang sudah menikah menolaknya. Perkataan pendetanya benar-benar menjadi kenyataan. Saat ini ia kesepian dan ditolak oleh keluarganya.

Orang-orang pada zaman Yehezkiel mirip sekali dengan pria tua di atas. Mereka suka mendengarkan para nabi berbicara tentang petunjuk-petunjuk Allah, tetapi mereka tetap saja hidup dalam kejahatan dan tidak menghiraukan peringatan-peringatan yang diberikan dengan sungguh-sungguh. Dan tepat seperti yang dinubuatkan oleh para nabi, bangsa Babel datang dan menjadikan mereka bangsa tawanan. Hingga kemudian mereka menyadari bahwa mereka telah melakukan kesalahan besar, yakni mendengarkan firman Allah tanpa mau melakukannya. Namun sudah terlambat bagi mereka untuk mencegah datangnya hukuman Allah.

Tuhan, tolonglah kami untuk menerapkan kebenaran-Mu dalam hidup kami sehingga kami mengalami kasih-Mu. Tolong kami untuk menjadi pendengar sekaligus pelaku firman-Mu – HV

Senin, 04 Juni 2007

Yakobus 5:13-18

DAHULUKAN DOA !

Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa!

(Yakobus 5:13)

Seorang pengajar Alkitab mengajukan pertanyaan berikut pada kelas yang diajarnya: "Ketika kalian dalam kesulitan, apa yang paling sering kalian lakukan terlebih dahulu?" Ia memberi mereka tiga pilihan jawaban:

* Berusaha mengatasinya sendiri.

* Menelepon teman dan menceritakannya.

* Memohon pertolongan Tuhan.

Hanya dua orang dalam kelas yang terdiri dari 35 orang itu menyatakan mereka berdoa terlebih dahulu. Kebanyakan dari mereka memilih nomor 1. Lainnya memilih nomor 2. Saya kira tanggapan-tanggapan ini memang umum terjadi.

Yakobus menuliskan: "Kalau ada di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa!" (5:13). Sering kali doa tidak menjadi tanggapan pertama atas permasalahan. Kita mungkin mencoba memecahkannya sendiri, menggunakan keterampilan atau sumber daya finansial kita sendiri. Atau kita mungkin berpaling pada teman-teman. Ketika tak satu pun dapat menolong, barulah kita mencoba untuk berdoa.

Bukan itu saja, biasanya kita juga tidak mendoakan masalah itu cukup lama atau berhenti sejenak untuk merenungkan apa yang Alkitab katakan tentang tanggapan kita terhadap suatu masalah. Namun, menakjubkan sekali apa yang dapat terjadi jika kita meluangkan waktu untuk mendoakan dan mendengarkan Tuhan berbicara lewat firman-Nya. Dia akan memberi sudut pandang baru terhadap situasi kita, dan membantu kita untuk lebih serupa dengan-Nya.

Yakobus berkata: "Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya" (5:16). Jadi, dahulukanlah doa! – DC

DOA HARUS MENJADI TANGGAPAN PERTAMA KITA

BUKAN USAHA YANG TERAKHIR

Selasa, 05 Juni 2007

Yohanes 3:1-18

PEMBERIAN TERBESAR

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini,

sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal

(Yohanes 3:16)

Ted Turner, seorang perintis dunia siaran yang sukses, mengajukan pertanyaan yang menantang kepada sahabatnya Vartan Gregorian, Direktur Carnegie Corporation: "Kau adalah pengumpul dana yang hebat. Berapa pemberian terbesar yang pernah kaudapat?" Gregorian pun menyebutkan sumbangan pendidikan sebesar 500 juta dollar yang diberikan oleh Walter Annenberg. Turner menyambung: "Bagaimana kalau satu miliar? Aku akan memberimu satu miliar malam ini." Dan ia benar-benar memberikannya, di samping menjanjikan 100 juta dolar per tahun untuk membiayai program-program PBB selama 10 tahun mendatang.

Kedermawanan Turner yang mengesankan mendapat perhatian dan pujian dari seluruh dunia. Agaknya ia memecahkan rekor pemberian terbesar di seluruh dunia. Namun benarkah demikian? Bagaimana dengan catatan Alkitab mengenai Allah yang memberikan "Anak-Nya yang tunggal" kepada dunia? (Yohanes 3:16).

Satu miliar dolar memang merupakan angka yang sangat besar, yang bahkan sukar kita bayangkan. Namun jumlah itu tak ada artinya bila kita mengingat palungan Betlehem dan salib Kalvari. Nilai pemberian Allah bagi manusia sungguh tak terkatakan. Dalam kekaguman yang dalam, Paulus berterima kasih kepada Allah atas "karunia-Nya yang tak terkatakan itu!" (2 Korintus 9:15).

Apakah pemberian paling berharga yang pernah ada? Anak tunggal Allah telah diberikan kepada dunia yang berdosa. Melalui iman di dalam Dia kita bisa mendapatkan pengampunan dosa yang sempurna dan hidup yang tak berakhir (ay 16). Sudahkah Anda menerima pemberian Allah itu? - VC

KRISTUS ADALAH PEMBERIAN TERBESAR

YANG PERNAH DIKENAL MANUSIA

Rabu, 06 Juni 2007

Roma 12:9-21

PELAYANAN MENGINGAT

Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita,

dan menangislah dengan orang yang menangis!

(Roma 12:15)

Liburan dapat menjadi saat yang sulit bagi orang yang sedang berdukacita. Teman-teman yang berkunjung mungkin enggan menyebutkan nama orang yang telah meninggal, karena takut menimbulkan luka yang tak perlu terjadi. Tetapi dalam minggu-minggu selanjutnya, teman teman atau anggota keluarga mungkin perlu berbicara secara terbuka dengan orang yang berduka itu mengenai orang yang telah meninggalkan mereka. Sebut saja sebagai "pelayanan mengingat."

Seorang pendeta di rumah sakit Connecticut berkata, "Saat Anda kehilangan karena kematian pasangan, anak, atau orangtua, hal itu sangat menyakitkan. Dan ketika orang-orang tidak mau menyebut nama mereka atau berbicara tentang kematian, si berduka justru akan merasa kehilangan itu terulang lagi."

Memang yang berduka akan pedih hatinya saat berbicara tentang orang yang dikasihi, entah orang itu meninggal minggu lalu atau bertahun tahun yang lalu. Namun meski orang itu harus menangis karena mengingat kedukaannya, usaha ini sesungguhnya dapat menimbulkan kelegaan emosi bahkan sukacita.

Saat mencermati serangkaian perintah dalam Roma 12, kita akan menemukan kata-kata berikut: "Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis" (ayat 15). Meluangkan waktu untuk mengingat bersama teman yang sedang berduka dapat menolong meringankan beban yang berat. Jika Anda teringat seseorang yang sedang berduka, lakukanlah sesuatu. Doakan, telepon, kunjungi, atau undang ia makan siang. Hal ini dapat menjadi hal terpenting yang Anda lakukan hari ini - DC

UNTUK MERINGANKAN BEBAN ORANG LAIN

BANTULAH UNTUK MENGANGKATNYA

Kamis, 07 Juni 2007

Markus 9:42-48

SUDAH TERLAMBAT

Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui; berserulah Kepada-Nya selama Ia dekat!

(Yesaya 55:6)

Sebuah agen asuransi berulang kali mencoba meyakinkan seorang pemilik rumah agar mengasuransikan rumahnya, khususnya untuk risiko kebakaran. "Tidak," ujar si pemilik dengan tegas. "Rumah ini dibangun dengan baik, dan dipelihara dengan benar. Rumah saya tidak akan pernah terbakar." Namun suatu hari rumah itu benar-benar terbakar! Bayangkan raut wajah agen asuransi tadi sewaktu melihat pemilik rumah itu dengan tololnya bergegas menemuinya untuk membeli polis asuransi, sementara asap tebal telah membubung ke angkasa dan si jago merah telah melalap rumahnya. Sudah terlambat!

Meski sepertinya tidak masuk akal, kisah di atas mengajarkan tentang kecongkakan yang bodoh dan sikap menunda-nunda pengambilan keputusan. Hal ini penting terutama ketika kita harus mengambil keputusan untuk menghindarkan diri dari apa yang digambarkan Yesus sebagai "api yang tak terpadamkan" (Markus 9:43).

Dengan menebus dosa kita di salib Kalvari, Yesus telah memberikan satu-satunya jalan untuk melepaskan diri dari penghakiman. Namun kita harus membuat keputusan yang penting sebelum menikmati keselamatan itu. Kita harus menerima tawaran keselamatan itu lebih dulu saat segalanya masih berjalan dengan baik, sebelum kematian menjemput kita.

Jangan bodoh. Percayalah bahwa Kristus mati dan bangkit kembali untuk memberi kehidupan kekal bagi Anda, dan terimalah Dia sebagai Juruselamat hari ini juga. Saat ini, selagi masih ada waktu, terimalah hadiah keselamatan dari Allah yang diberikan secara cuma-cuma - RW

ANDA TIDAK AKAN BERTOBAT TERLALU CEPAT KARENA

ANDA TIDAK TAHU KAPAN HIDUP ANDA AKAN BERAKHIR

Jumat, 08 Juni 2007

Kolose 3:18-25

MASALAH HATI

Apa pun juga yang kamu perbuat,

perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia

(Kolose 3:23)

Dalam bukunya The Second Shift (Sif Kedua), Arlie Hochschild menggambarkan bagaimana pasangan suami-istri berbagi tanggung jawab rumah tangga. Umumnya, suami-istri yang sama-sama berkarier sepakat bahwa adalah adil jika mereka berbagi tugas rumah tangga. Namun penelitian menunjukkan bahwa pria cenderung mengerjakan lebih sedikit dari yang ditugaskan.

Mengapa? Satu alasan yang tepat adalah bahwa para suami sekarang mengukur apa yang mesti dikerjakannya di rumah sebanyak yang dilakukan ayahnya dulu. Namun para istri mereka menuntut lebih dari itu. Akibatnya, pembagian peran itu menjadi sumber konflik. Tetapi, Hochschild menunjukkan masalah yang lebih dalam. Ia menulis, "Bila suami-istri berkarier, sulit untuk menentukan siapa yang akan mengerjakan ini atau itu. Yang lebih sering terjadi adalah segalanya berakhir tanpa ada ucapan syukur. Dalam wawancara dengan sejumlah wanita, mereka bercerita tentang ayah mereka yang membantu ibu mereka atas dasar kasih atau perhatian .. Namun sekarang . tak seorang pria pun mau memadukan antara membantu pekerjaan rumah dan kasih."

Ada pemahaman penting yang bisa kita petik dari sini. Hubungan yang baik dibangun bukan hanya atas dasar apa yang dilakukan, melainkan juga atas dasar mengapa dilakukan. Inilah pernikahan yang sejati. Namun ada hubungan yang lebih penting lagi untuk dibangun, yakni hubungan dengan Allah. Kasih bertumbuh bukan hanya karena apa yang kita lakukan, melainkan juga karena alasan kita melakukannya (Kolose 3:23). Tuhan menginginkan kita melakukan yang benar, atas dasar kasih kepada-Nya - MII

MUNGKIN KITA DAPAT MEMBERI TANPA MENGASIHI

TETAPI KITA TIDAK DAPAT MENGASIHI TANPA MEMBERI

Sabtu, 09 Juni 2007

Yohanes 1:1-12

SAYA BERSEDIA

Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah,

yaitu mereka Yang percaya dalam nama-Nya

(Yohanes 1:12)

Seorang penginjil mencoba membantu seorang wanita untuk memahami isi Yohanes 1:12 dan apa artinya menerima Kristus. "Nama keluarga Anda Franklin, bukan?" tanyanya. "Ya," jawab wanita itu. "Berapa lama Anda menyandang nama itu?" "Sejak saya dan suami saya menikah 30 tahun lalu." "Ceritakanlah," kata sang penginjil, "bagaimana Anda dapat menjadi Nyonya Franklin?"

Wanita itu diam sejenak. "Ketika kami menikah, bapak pendeta menanyai saya, 'Apakah Anda bersedia menerima pria ini sebagai suami Anda yang sah?' dan saya berkata, 'Ya, saya bersedia.' Dengan berkata demikian saya menjadi istrinya." "Anda tidak berkata, 'Saya harap begitu,' atau 'Saya akan mencoba menerimanya sebagai suami saya?'" tegas sang penginjil. "Tidak," jawab wanita itu. "Saya berkata, 'Saya bersedia,' itu saja."

Sang penginjil menjelaskan bahwa Allah pun ingin ia menerima Kristus sebagai Juruselamat dengan cara yang sama. Akhirnya wanita itu mengerti dan berseru, "Alangkah sederhananya!" Ia sampai bertanya-tanya mengapa tidak dari dulu ia berkata, "Saya bersedia," sehingga saat itu juga ia dapat menerima Kristus sebagai Juruselamat dan mempercayai apa yang dikatakan Alkitab mengenai Dia, yakni bahwa Kristus mati untuk menebus dosa-dosanya.

Sudahkah Anda mempercayai Tuhan Yesus Kristus untuk menyelamatkan Anda? Jika belum, katakanlah sekarang dari lubuk hati Anda, "Tuhan Yesus, saya bersedia berbalik dari dosa-dosa saya dan menerima Engkau sebagai Juruselamat pribadi saya." Inilah kalimat terpenting yang harus Anda ucapkan – RW

IMAN ADALAH TANGAN YANG

MENERIMA KARUNIA KESELAMATAN DARI ALLAH

Minggu, 10 Juni 2007

Kolose 1:1-12

BUKET KASIH

Bapa ... melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan

untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang

(Kolose 1:12)

Di samping vas kosong di kamar hotel saya, tampak sebuah kartu berisi undangan yang bunyinya: "Di kebun kami ada beraneka ragam bunga bagi Anda, termasuk zinnia, aster, meadow sage, snapdragon. Nikmatilah keindahannya, dan janganlah ragu memetik beberapa kuntum untuk ditaruh di kamar Anda. Untuk informasi selanjutnya, atau untuk mendapat gunting pemotong, hubungi resepsionis."

Saya memandang sekilas keluar jendela dan menemukan kebun yang indah itu. Undangan itu menawarkan pilihan bagi saya. Saya bisa sekadar melihat dan mengagumi bunga-bunga itu. Atau, menjadi lebih dari sekadar penonton yang terkagum-kagum dengan memetik beberapa kuntum bunga, membawanya ke kamar, dan menyegarkan hari-hari saya.

Bagi saya, ini merupakan gambaran yang sangat indah tentang karunia keselamatan dari Allah. Bapa juga membuat "kebun" rekonsiliasi dan penebusan, dan Dia mengundang kita untuk mengundang Anak-Nya ke dalam hati kita sehingga kita mendapat pengampunan dan hidup kekal di dalam Dia. Dalam Yesus Kristus, Dia "melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang" (Kolose 1:12). Karunia Allah itu terus berlangsung setiap hari karena Dia telah mengungkapkan "betapa kaya dan mulianya rahasia itu ... yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan!" (ayat 27). Allah memiliki karunia indah bagi kita, dalam "kebun" kasih-Nya, yakni "buket" kasih yang bisa kita nikmati setiap hari - D

KESELAMATAN ADALAH KARUNIA YANG DISEDIAKAN

UNTUK DINIKMATI SEKARANG DAN SELAMANYA

Senin, 11 Juni 2007

Yohanes 10:7-10

SEMUA PERLU YESUS

Setiap orang yang percaya kepada-Nya [Tidak binasa, melainkan] beroleh hidup yang kekal

(Yohanes 3:15)

Dosen Universitas Cambridge, J.S. Whale, suatu hari menerima sebuah surat. Seorang pria menulis bahwa setelah ia dan istrinya kini memasuki usia 60-an, ia merasa tidak ada gunanya percaya kepada Yesus. Meskipun tak pernah ke gereja, tidak mempercayai Allah maupun kehidupan yang akan datang, tetapi mereka menjalani hidup pernikahan dengan bahagia selama 40 tahun. Mereka pun sangat dihormati dan selalu berbuat baik. Oleh karena itu si penulis surat bertanya-tanya apa yang dapat ditawarkan agama kepada mereka.

Saya tidak tahu bagaimana Dr. Whale menjawab surat itu. Yang saya tahu adalah Yesus berkata bahwa Dia datang untuk menawarkan "hidup" yang lebih berkelimpahan dari apa pun yang dapat diberikan dunia ini (Yohanes 10:10). Tidak seperti hal-hal bersifat sementara yang kita jumpai sekarang ini. Dia menawarkan hidup yang kekal (Yohanes 3:15,16).

Seiring berjalannya waktu, cepat atau lambat kekuatan kita akan berkurang. Kita dapat mengalami penyakit yang parah atau bahkan kelumpuhan. Atau, kita tak dapat lagi mengurus orang lain dan diri sendiri, kehilangan orang-orang yang kita kasihi, dan terancam bayangan maut yang semakin mendekat.

Tatkala samudera kehidupan terlihat tenang, tampaknya kita tidak memerlukan "sang Kapten" yang mampu mengatasi badai yang dapat menyerang kapal kecil kita. Namun yang pasti kesulitan dan kematian pasti akan datang. Menyangkal kebutuhan kita akan Allah berarti menyangkal kenyataan. Semua orang memerlukan Yesus – VC

LANGKAH PERTAMA UNTUK HIDUP BERKELIMPAHAN DALAM KRISTUS

ADALAH MENGAKUI BAHWA KITA MEMERLUKAN-NYA

Selasa, 12 Juni 2007

Roma 12:9-16

MEMBUKA HATI

Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara,

... usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan

(Roma 12:10,13)

Saya mengadakan perjalanan ke Minsk, ibukota Belarus, untuk berbicara dalam konferensi regional bagi para pendeta. Saya jarang mengalami perjalanan yang segala sesuatunya berjalan lancar seperti saat itu. Pesawat tiba dan berangkat tepat pada waktunya. Tidak ada masalah di pabean. Saya pun diperlakukan dengan sangat hangat dan ramah.

Pada Jumat malam saya tinggal bersama keluarga sopir saya. Mereka sangat ramah kepada saya. Ketika saya tiba di apartemen mereka yang kecil, istri dan tiga anaknya yang ada di rumah menyambut saya. Yang tertua, seorang anak laki-laki, dan kedua adik perempuannya menemani saya. Sementara itu ibunya menyiapkan makan malam sederhana yang sangat lezat, yang mungkin menghabiskan anggaran makan mereka untuk beberapa minggu. Beberapa saat kemudian putrinya yang sulung, Anastasia, 13 tahun, pulang dari kursus melukis. Ia menunjukkan koleksinya dan menawarkan sebuah lukisan kepada saya. Saya memilih lukisan dua ekor kucing, yang saya tahu akan sangat disukai cucu-cucu saya.

Sesudah makan malam, kami menuju sebuah ruang kecil di mana anak laki-laki mereka bermain selo untuk saya. Lalu Anastasia menyanyikan lagu gubahannya sendiri. Sesudah itu kami bernyanyi bersama. Bagi tamu seperti saya, yang jauh dari keluarga, yang merindukan orang-orang yang dikasihinya, dan harus menepati jadwal yang sangat padat, kehangatan keluarga itu sangat istimewa. Ketika saya merenungkan kasih dan kebaikan hati mereka, saya memohon agar Allah menolong saya untuk siap sedia untuk "selalu memberikan tumpangan" (Roma 12:13) seperti mereka – DC

KERAMAHTAMAHAN DAPAT MENGISI

KEKOSONGAN HATI YANG KESEPIAN

Rabu, 13 Juni 2007

Mazmur 104:16-25

JALAN SETAPAK

Ia membuat Segala sesuatu indah pada waktunya

(Pengkhotbah 3:11)

Di atas pegunungan dekat rumah kami terdapat sebuah jalan setapak yang naik dan kemudian turun sampai ke sisi sebuah ngarai yang curam. Pada akhirnya jalan itu menuju sebuah sungai, yang setelah melalui tumpukan batu besar seperti puri, mengalir ke hutan-hutan yang lebat dan berlumut. Di tempat itu pemandangan begitu tenang dan damai. Di sana bunga-bunga liar mengembang begitu indah, walaupun daerah itu terpencil dan jarang dikunjungi orang.

Bahkan jika tak seorang pun mengunjunginya, tempat itu tetap indah karena Allah yang menciptakannya. Yang menakjubkan adalah Dia menciptakan keindahan ini bagi siapa saja yang mau menerimanya, sebagai ungkapan kasih dan kreativitas-Nya yang kasat mata. Inilah sebabnya saya suka mengamati dan menjelajahi alam.

Saya menyembah dan bersyukur kepada Allah atas tempat tersembunyi yang penuh kedamaian ini. Bersama Daud saya berseru, "Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu" (Mazmur 104:24).

Saya merasa kasihan terhadap mereka yang memuja alam tetapi tidak mengenal Allah yang menciptakannya. Ketika mereka datang ke tempat-tempat seperti itu, mereka tidak bersyukur kepada siapapun.

Kita yang mengenal Allah dapat menemukan Dia melalui ciptaan-Nya. Itu sebabnya kita dapat selalu bersyukur kepada-Nya karena Dia menunjukkan kasih-Nya dengan cara-cara yang begitu indah –DH

SEGALA CIPTAAN MEMILIKI TANDA-TANDA

YANG MENUNJUK KEPADA PENCIPTANYA

Kamis, 14 Juni 2007

Galatia 6:7-10

PERTOLONGAN TAK TERDUGA

Marilah kita berbuat baik kepada semua orang,

tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.

(Galatia 6:10)

Gary, seorang pendeta kaum muda di Michigan, pergi bersama sekelompok remaja dengan mobil van gereja ke North Dakota, Montana, dan Idaho. Mereka hendak berpetualang, bersekutu, dan mengalami tantangan rohani di Amerika Barat yang luas. Ide yang bagus. Namun mobil van tua yang mereka gunakan dan beberapa orang tertentu membuat perjalanan tidak menyenangkan.

Ketika mobil van itu mogok di Montana, Gary menelepon sebuah gereja yang sama denominasinya dengan gerejanya. Ia menanyakan apakah anak-anak muda itu dapat bermalam di gereja tersebut. Mereka semua membawa kantong tidur, karena itu dapat tidur di lantai. Namun, pemimpin gereja itu tidak mengizinkannya. Rombongan itu terpaksa tinggal di motel selama dua hari sampai van itu selesai diperbaiki.

Waktu terasa berjalan begitu lambat dan anak-anak muda itu mulai gelisah. Melihat kesulitan mereka, seorang wanita setempat mengajak mereka ke peternakannya. Ia mengajari mereka naik kuda, mengizinkan mereka terlibat dalam kegiatan peternakan sehari-hari, dan menjamu mereka dengan masakan yang lezat. Sementara itu, montir yang memperbaiki mobil van mereka juga hanya menarik ongkos sebesar biaya suku cadang yang harus diganti. Ironisnya, baik pemilik peternakan maupun montir tersebut bukanlah orang kristiani.

Ini adalah hal yang sederhana. Namun terkadang Allah menggunakan orang-orang yang tidak mengenal gereja untuk mengingatkan orang kristiani "agar berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman" – DC

Jumat, 15 Juni 2007

1Petrus 5:6-14

SISTEM PERTAHANAN

Baiklah kita sadar, berbajuzirahkan iman dan kasih,

dan berketopongkan pengharapan keselamatan

(1Tesalonika 5:8)

Beberapa tahun yang lalu Dinas Rahasia Amerika Serikat mengamati bahwa para pejabat pemerintah tingkat atas tampaknya adalah pejabat yang "paling tidak terlindungi" dibandingkan anggota kabinet yang lain. Karena itu, untuk melindungi mereka dipasanglah empat buah pintu keamanan dari kaca di rumah dinas Washington. Semua itu menelan biaya 58.000 dolar. Pintu-pintu itu ditambah sepasang pintu kayu tebal besar yang tidak mungkin dirobohkan.

Kemudian ketika seorang pengawas memeriksa hasilnya, ia melihat bahwa pintu-pintu keamanan yang baru itu "selalu terbuka dan tidak dijaga." Jadi, nilai keamanannya adalah nol!

Saya melihat adanya kesamaan antara peristiwa ini dan keadaan rohani kita. Tuhan telah menyediakan semua senjata yang kita perlukan untuk menghadapi setiap ujian dan pencobaan. Sebagai contoh ada di 1 Tesalonika 5:8: "berbajuzirahkan iman dan kasih." Ketika kesulitan masuk ke dalam hidup kita, maka iman dapat mengalahkannya. Dan kasih mencegah kita berbalik pada sikap mengasihani diri sendiri. Kasih memusatkan perhatian kita pada kebutuhan dan kebaikan orang lain.

Ketopong "pengharapan keselamatan" merupakan harapan yang kuat akan penyelamatan terakhir yang dapat mencegah kita kehilangan iman di tengah-tengah kekacauan.

Namun perlu kita ingat, bahwa sistem pertahanan kita tidak bekerja secara otomatis. Kekuatan yang bersumber dari Allah harus digunakan agar sistem pertahanan kita dapat bermanfaat - MII

TAK ADA KEJAHATAN YANG MAMPU MENEMBUS BAJU ZIRAH ALLAH

Sabtu, 16 Juni 2007

Amsal 1:1-9

MELAKUKAN HAL YANG BENAR

Menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan, dan kejujuran.

(Amsal 1:3)

Pakar manajemen Peter Drucker pernah menulis bahwa orang-orang sering kali terlalu memusatkan perhatian pada efisiensi (melakukan sesuatu dengan benar), bukannya efektivitas (melakukan sesuatu yang benar). "Ada beberapa hal yang kurang menyenangkan bagi Tuhan; dan kurang produktif," kata Drucker, "jika kita membandingkannya dengan sebuah bagian teknik yang dapat dengan cepat mengeluarkan cetak biru yang indah dari produk yang salah. Mengerjakan hal yang benar akan membuat pekerjaan kita menjadi efektif." Ini adalah kata-kata bijak untuk setiap orang yang mencari kesuksesan bisnis dan mereka yang mencoba menjalani hidup yang lebih baik.

Bagaimana kita dapat memastikan bahwa kita melakukan perbuatan yang benar secara moral dan menyenangkan Allah secara efisien, bukan melakukan perbuatan yang salah? Salomo menulis amsal-amsalnya agar putranya "menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan, dan kejujuran." Atau seperti salah satu terjemahan yang menyebutkan, untuk memperoleh "hidup yang teratur dan bijaksana, lakukanlah apa yang benar, pantas, dan adil" (Amsal 1:3, NIV).

Melalui firman-Nya dan bimbingan Roh Kudus, Allah akan mengajarkan kepada kita apa yang benar dan memampukan kita untuk melakukannya. Tugas kita yang terpenting adalah melakukan apa yang terkandung dalam "kebenaran, keadilan, dan kejujuran."

Hari ini, dengan kebijaksanaan dan kekuatan Allah, mari kita lakukan perbuatan yang benar. – DC

JADILAH BIJAK, LAKUKAN YANG BENAR

Minggu, 17 Juni 2007

Yesaya 58:6-12

ULURAN TANGAN

Apabila engkau tidak lagi ... menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah,

... [maka] kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari

(Yesaya 58:9,10)

Seorang lelaki tua berumur 89 tahun, yang suka menciptakan kata-kata baru untuk menggambarkan masalah-masalah umum, menyebut seseorang yang suka menyalahkan segala sesuatu dengan sebutan penentang (againstovist). "Apa pun yang Anda usulkan," katanya, "akan ia tentang, dan ia akan mencari kesalahan dalam setiap hal yang Anda lakukan."

Saya merenungkan kata-katanya dan sering kali merasa bersalah karena sering menjadi orang seperti yang ia gambarkan. Ketika saya ingin menjadi orang yang "realistis," ternyata saya lebih cenderung menjadi penentang (againstovist)." Padahal itu tidak berkenan bagi Allah.

Dalam Kitab Yesaya 58, Nabi Yesaya berkata bahwa gaya hidup berkorban yang Allah inginkan adalah: "melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya" (ay 6), "tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah" (ay 9).

Apabila saya membuat seseorang tertekan dengan kritikan dan kata- kata pedas yang menyakitkan hati, maka Allah akan berkata bahwa saya harus berubah. Dia tidak ingin saya mencari-cari kesalahan, tetapi Dia ingin saya memerdekakan dan membebaskan orang lain. Alih-alih menyalahkan orang lain, lebih baik saya mengulurkan tangan untuk menolong.

Saya tidak bisa menemukan satu kata baru untuk menggambarkan orang yang dapat melepaskan beban dan memberikan kebebasan, tetapi saya yakin teman saya tadi bisa. Dan saya berharap kata yang akan ditemukan itu menggambarkan diri saya - DC

BERILAH SEMANGAT KEPADA ORANG LAIN

JANGAN HANCURKAN HATI MEREKA

Senin, 18 Juni 2007

1Petrus 1:3-9

DIUJI OLEH API

Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas

(Ayub 23:10)

Pada Oktober 1991, fire storm [nyala api yang sangat besar dari ledakan bom atom] menghancurkan 2.500 rumah di sekitar Oakland, California. Ketika orang-orang kembali ke rumah mereka yang telah hancur dan memeriksa reruntuhan, mereka mendapati bahwa semua harta milik mereka telah menjadi abu. Namun, seorang pria dan anak perempuannya menemukan sebuah patung kelinci kecil dari porselen. Mereka sangat heran karena benda yang mudah pecah itu justru masih utuh. Para korban lain dari bencana alam ini juga menemukan tembikar dan barang-barang porselen lain yang selamat dari amukan fire storm.

Pada hari Minggu setelah bencana itu, pendeta setempat membawa sebuah vas yang masih utuh ke mimbarnya. Itu adalah satu-satunya benda yang ia temukan dari reruntuhan rumahnya. Ia bertanya pada jemaatnya, "Anda tahu mengapa benda ini masih utuh sedangkan rumahku justru hancur?" Ia menjawab pertanyaannya sendiri dengan berkata, "Karena benda ini pernah melewati api sebelumnya."

Dapatkah cobaan-cobaan hidup yang sangat berat dipandang sebagai suatu berkat? Rasul Petrus menunjukkan kepada kita bahwa hal ini sangat mungkin. Ia bahkan menjelaskan bahwa berbagai pencobaan dapat menghasilkan "puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya" (1 Petrus 1:6,7).

Cobaan-cobaan yang sangat berat dapat begitu menyiksa, tetapi apabila kita memikul cobaan itu dengan karunia Allah, iman kita akan muncul dari tungku yang berkobar-kobar, lebih murni dan lebih kuat daripada sebelumnya - VG

API MEMURNIKAN EMAS

KESENGSARAAN MEMURNIKAN MANUSIA

Selasa, 19 Juni 2007

Amsal 6:12-19

SENI MEMFITNAH

Siapa menyembunyikan kebencian, dusta bibirnya; siapa mengumpat adalah Orang bebal

(Amsal 10:18)

Allah sangat membenci orang yang suka memfitnah. Mereka keji, jahat, serta menyimpan kebencian di dalam hati serta kebohongan di mulut mereka.

Sebagian orang menganggap fitnah sebagai seni. Dengan fitnah, mereka tak perlu menggunakan golok untuk memenggal kepala sesamanya. Mereka dapat melakukannya dengan cara halus. Mereka memfitnah dengan bahasa isyarat, kerlingan mata, ataupun senyuman licik.

Jonathan Swift, seorang pengarang tahu benar buruknya fitnah, menggambarkan pemfitnah sebagai orang yang dapat "menyampaikan fitnah dengan kerutan di dahi, dan menjatuhkan reputasi seseorang dengan kerlingan mata." Robert Louis Stevenson menulis, "Kebohongan paling kejam sering kali dinyatakan dengan diam." Ketika seseorang sedang diserang dalam perdebatan, para pendengar dapat ikut menyerang melalui anggukan.

Kitab Amsal menceritakan orang-orang zaman kuno yang menggunakan bahasa tubuh untuk menghancurkan sesamanya (6:12-15). Mereka memfitnah dengan mengerlingkan mata, memberi isyarat, atau mengangkat bahu agar merasa aman. Lagi pula, kejahatan dalam bentuk gerakan isyarat atau kerlingan mata sangat sulit dibuktikan. Tindakan mereka tidak kentara, tetapi sama mematikannya dengan peluru yang menembus jantung.

Gerak isyarat apa yang Anda gunakan untuk berkata-kata tentang orang lain? Mintalah kepada Tuhan yang penuh kasih dan benar untuk membantu Anda menjaga segala perkataan dan tindakan Anda. Demi Dia, demi Anda sendiri, dan demi sesama, mintalah kepada Allah sekarang juga! – HR

LIDAH BERADA DI TEMPAT YANG BASAH

JADI MUDAH TERPELESET!

Rabu, 20 Juni 2007

Zakharia 8:14-17

DUA ULAS MENTEGA

Buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada Yang lain

(Efesus 4:25)

Kita harus memiliki sifat jujur jika ingin menjadi saksi Kristus yang efektif. Bahkan dunia sekuler pun menyadari pentingnya kejujuran.

Seorang pemuda yang memiliki bekal untuk masa depan yang cerah melamar pekerjaan di sebuah bank. Dari sekian banyak pelamar, direktur perusahaan tertarik pada kredibilitasnya. Sebelum menerimanya, sang direktur mengundang pemuda tersebut untuk makan siang bersama beberapa pimpinan bank itu.

Pada saat mereka antre di kantin, pemuda itu menaruh dua ulas mentega di bakinya, dan menyembunyikannya di bawah tepi piring supaya penjaga kasir tidak melihatnya. Sang direktur perusahaan yang berdiri persis di belakangnya memperhatikan apa yang dilakukan pemuda itu. Jika pemuda ini tidak jujur dengan dua ulas mentega, pikirnya, bagaimana mungkin ia dapat dipercaya sebagai kasir bank? Saat itu juga sang direktur memutuskan untuk tidak menerimanya. Kebohongan dapat berbentuk macam-macam. Kebohongan dapat berupa kata-kata atau perbuatan seperti menyembunyikan dua ulas mentega, yang sama artinya dengan mencuri.

Seorang anak berumur 11 tahun yang setia membaca Renungan Harian menulis demikian, "Aku tidak dapat berbohong, karena berbohong membuat perutku terasa perih." Oh, seandainya kita sepeka anak itu! Tuhan, jadikanlah kami orang-orang yang dapat diandalkan kejujurannya dalam segala hal, baik dalam hal besar maupun hal yang kecil – DD

ORANG YANG JUJUR TIDAK MENYEMBUNYIKAN APA-APA

Kamis, 21 Juni 2007

Ayub 42

DIKECEWAKAN SAHABAT

Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa,

tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka

(Yohanes 17:20)

Dengan para sahabat seperti yang dimilikinya, Ayub tak lagi membutuhkan musuh. Ketiga sahabatnya yang seharusnya menghibur, sama sekali tidak meringankan penderitaan Ayub. Bukannya bersimpati, mereka malah melemparkan tuduhan yang memperberat penderitaannya.

Namun, Ayub berhasil keluar dari penderitaan dan kebingungan itu dengan penuh kemenangan. Satu langkah penting yang dilakukannya untuk mencapai kemenangan adalah mendoakan para sahabat yang telah mengkritik dan menyalahkannya. Allah mendengarkan doanya. Ia pun bahagia melihat sahabat-sahabatnya kembali kepada Allah untuk memperoleh pengampunan (Ayub 42:7-10).

Yesus juga mendoakan sahabat-sahabat-Nya (Yohanes 17:6-19), meski mereka sering mengecewakan. Sementara menjalani penderitaan yang dalam menjelang penyaliban yang semakin dekat, Yesus berdoa bagi Petrus meski Dia tahu bahwa tak lama lagi Petrus akan menyangkal-Nya (Lukas 22:31-34).

Yesus pun berdoa bagi Anda dan saya (Yohanes 17:20-26). Pelayanan doa-Nya, yang dimulai sebelum kematian dan kebangkitan-Nya, terus berlanjut sampai hari ini. Meski kadang-kadang kita bersikap seperti musuh-Nya, dan bukan sebagai sahabat-Nya, Yesus tetap membela kita di hadapan Bapa-Nya (Roma 8:34; Ibrani 7:25).

Dalam mengikuti teladan Kristus, kita harus mendoakan para sahabat dan kenalan kita, bahkan ketika mereka menyakiti hati kita. Adakah seseorang yang dapat Anda doakan hari ini? - HR

AGAR ANDA DAPAT MENGASIHI SESEORANG LEBIH DALAM

LEBIH SERINGLAH BERDOA UNTUK DIA

Jumat, 22 Juni 2007

2Tawarikh 20:1-17

HANYA ALLAH YANG TERSISA

Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini,

sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah

(2Tawarikh 20:15)

Seorang guru Alkitab yang bijak suatu kali berkata, "Cepat atau lambat Allah akan membawa umat-Nya yang merasa memiliki segalanya ke tempat di mana mereka tidak memiliki apa pun selain Dia; tanpa kekuatan, tanpa penjelasan, tanpa apa pun kecuali Dia. Tanpa pertolongan Allah, mereka akan hancur."

Ia lalu bercerita tentang seseorang yang putus asa mengeluh kepada pendetanya, "Hidup saya benar-benar hancur." "Seberapa parah?" tanya si pendeta. Sambil menutupi kepalanya dengan tangannya, ia meratap, "Sangat parah, sehingga satu-satunya milik saya yang masih tersisa hanya Allah." Wajah sang pendeta berseri-seri. "Dengan senang hati saya meyakinkan Anda bahwa orang yang hanya memiliki Allah, memiliki kekuatan yang lebih dari cukup untuk memperoleh kemenangan besar!"

Dalam bacaan Alkitab hari ini, bangsa Yehuda juga sedang menghadapi masalah. Mereka sadar bahwa tak punya cukup kekuatan dan kehabisan cara untuk mengalahkan musuh. Yang tersisa hanya Allah! Namun, Raja Yosafat dan rakyatnya melihatnya sebagai sumber harapan, bukannya keputusasaan. "Mata kami tertuju kepada-Mu," seru mereka kepada Allah (2 Tawarikh 20:12). Dan mereka tidak dikecewakan karena Dia memenuhi janji-Nya: "Bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah" (ay 15).

Apakah Anda sedang dalam situasi di mana segala milik Anda lenyap? Ketika Anda mengarahkan pandangan kepada Tuhan dan menaruh harapan kepada-Nya, Anda akan mendapatkan pemenuhan janji Allah, dan Anda tidak akan membutuhkan apa-apa lagi - J

KETIKA ALLAH ADALAH SATU-SATUNYA YANG ANDA MILIKI,

ANDA TELAH MEMILIKI SEGALA YANG ANDA BUTUHKAN

Sabtu, 23 Juni 2007

Yeremia 32:1,2,16-30

APAKAH SAAT YANG BAIK ITU BURUK ?

Engkaulah yang menunjukkan kasih setia-Mu kepada beribu- ribu orang ...

besar dalam rancangan-Mu dan agung dalam Perbuatan-Mu

(Yeremia 32:18,19)

Dalam banyak buku dan khotbah, orang-orang kristiani sering kali ditanya apakah iman mereka cukup kuat untuk bertahan di saat-saat yang buruk. Namun, saya mengajukan pertanyaan yang lebih baik pada diri saya sendiri: "Apakah iman saya cukup kuat untuk bertahan di saat-saat menyenangkan?"

Saya sering kali melihat orang-orang yang menjauh dari Tuhan, bukan saat hidup mereka sulit, tetapi justru saat hidupnya berjalan dengan baik. Saat itulah Allah tampaknya tidak diperlukan lagi.

Kita terlalu sering menafsirkan berkat-Nya sebagai tanda atas kebaikan kita, bukan kebaikan-Nya. Kita menganggap diri layak mengalami semua kejadian yang menyenangkan. Namun, kita tidak dapat memahami bahwa Allah menyatakan diri-Nya melalui hal-hal baik yang telah diberikan-Nya untuk kita.

Dalam bukunya The Problem of Pain (Hal Penderitaan), C.S. Lewin menulis, "Allah berbisik kepada kita melalui kesenangan-kesenangan kita ... tetapi Dia berteriak melalui penderitaan kita." Jika kita menolak mendengar bisikan-Nya, Dia mungkin akan berteriak untuk mendapatkan perhatian kita. Itulah yang terjadi pada bangsa Israel. Meskipun Allah telah memberi mereka "suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya," tetapi mereka berpaling dari-Nya, sehingga Dia "melimpahkan kepada mereka segala malapetaka ini" (Yeremia 32:22,23).

Kebaikan Allah menjadi alasan untuk menaati-Nya, dan bukan kesempatan untuk tidak mematuhi-Nya. Ketika kita sadar akan hal itu, maka hubungan kita dengan Tuhan tidak melemah, bahkan akan semakin dikuatkan, oleh anugerah dan berkat-Nya – J

Minggu, 24 Juni 2007

Hosea 3

KASIH TAK BERSYARAT

Cintailah perempuan yang suka bersundal dan berzinah,

seperti TUHAN juga mencintai orang Israel

(Hosea 3:1)

Betapa menyenangkan jika kita melihat suatu tindakan yang menunjukkan kasih tanpa syarat! Seorang dokter menceritakan bagaimana ia terharu melihat tanggapan seorang suami muda terhadap istrinya yang baru saja menjalani bedah wajah. Untuk membuang sebuah tumor, ahli bedah harus memotong sebuah syaraf yang mengendalikan otot-otot mulut, hingga bibir sang istri menjadi aneh.

Setelah operasi, tatkala sang dokter dan suaminya berdiri di sisi tempat tidurnya, wanita itu bertanya, "Apakah mulutku akan selamanya seperti ini?" Dokter yang merawatnya itu mengiyakan. Lalu sang suami memandang istrinya. Ia tersenyum dan mengatakan bahwa mulut istrinya itu kini justru tampak "menggemaskan." Lalu ia membungkuk dan mencium istrinya, meski ia mengalami kesulitan karena bentuk bibir istrinya yang aneh.

Kasih tanpa syarat, itulah yang ditunjukkan Nabi Hosea kepada istrinya yang telah meninggalkannya dan hidup sebagai pelacur. Ia mencari istrinya, menebusnya, dan membawanya pulang. Allah berkata bahwa seperti itu pulalah kasih-Nya kepada bangsa Israel yang tidak patuh dan tidak setia kepada-Nya (Hosea 3:1). Dia berjanji akan terus mengasihi mereka sehingga suatu hari kelak mereka akan kembali kepada-Nya dan menerima semua berkat yang disediakan bagi mereka.

Allah mengasihi anak-anak-Nya dengan kasih yang tak bersyarat. Sungguh menakjubkan! Demikian pula Dia mengharap kita mengasihi orang lain dengan kasih tak bersyarat. Sungguh suatu tantangan bagi kita! - HV

ALLAH MENGASIHI ANAK-ANAK-NYA BUKAN KARENA

SIAPA MEREKA MELAINKAN KARENA SIAPA ALLAH

Senin, 25 Juni 2007

Roma 5:6-11

MENGAPA AKU ?

Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita,

oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa

(Roma 5:8)

Seorang pendeta Inggris bernama Joseph Parker ditanya, "Mengapa Yesus memilih Yudas menjadi murid-Nya?" Sejenak ia merenungkan pertanyaan tersebut, tetapi tidak menemukan jawaban apa pun. Selanjutnya ia berkata bahwa sejak itu ia malah terus berhadapan dengan suatu pertanyaan yang lebih membingungkan: "Mengapa Dia memilih aku?"

Itulah hal yang selalu dipertanyakan selama berabad-abad. Ketika manusia menyadari dosa mereka dan dikuasai rasa bersalah, mereka berseru memohon belas kasihan Yesus. Dalam ketakjuban yang penuh sukacita, mereka menyadari bahwa Allah mengasihi mereka, Yesus mati bagi mereka, dan semua dosa mereka diampuni. Sungguh sulit untuk dipahami!

Saya juga telah bertanya, "Mengapa aku?" Saya tahu bahwa perbuatan kegelapan dan penuh dosa dalam hidup saya dimotivasi oleh hati yang jauh lebih gelap, tetapi Allah mengasihi saya! (Roma 5:8). Saya tidak layak, tidak berharga, dan tidak berdaya, tetapi Dia membuka tangan dan hati-Nya untuk saya. Saya hampir bisa mendengar bisikan Nya, "Aku mengasihi engkau lebih daripada engkau mengasihi dosamu."

Itu benar! Saya menyayangi dosa saya, melindunginya, dan menyangkal bahwa berbuat dosa, adalah hal yang salah. Namun Allah begitu mengasihi saya sehingga Dia mengampuni dan membebaskan saya.

Pertanyaan "Mengapa aku?" itu tetap melampaui pemahaman saya. Namun saya tahu Dia mengasihi saya. dan, Dia pun mengasihi Anda! - DC

ALLAH MENGASIHI KITA BUKAN KARENA SIAPA KITA

MELAINKAN KARENA SIAPA DIA

Selasa, 26 Juni 2007

Imamat 23:33-44

BUKAN PERUSAK SUKACITA

Pada hari yang pertama kamu harus mengambil buah-buah dari pohon-pohon yang elok,

... dan kamu harus bersukaria di hadapan TUHAN, Allahmu

(Imamat 23 :40)

Berlawanan dengan apa yang banyak diyakini orang, Allah bukanlah perusak sukacita yang tidak suka melihat umat-Nya bersenang-senang. Hari raya Pondok Daun dalam Perjanjian Lama merupakan salah satu buktinya. Lima hari sesudah hari Pendamaian yang dirayakan setiap tahun, yakni satu hari untuk berpuasa ketika bangsa Israel menyatakan penyesalan atas dosa-dosa mereka, diadakanlah perayaan selama satu minggu (Imamat 23:26-32).

Kemah-kemah suci yang menyerupai pondok daun mengingatkan bangsa Israel akan kediaman sementara yang mereka miliki di padang gurun. Hari raya itu juga dikenal sebagai "hari raya pengumpulan hasil akhir" (Keluaran 23:16), yang menggambarkan berkat Allah atas tuaian mereka, juga atas perhentian akhir dan penuaian yang disediakan bagi mereka di masa depan.

Setiap orang yang ikut serta dalam minggu penyembahan itu, bersukacita dan beria-ria (Ulangan 16:13,14). Bayangkan anak-anak menyapa teman bermain mereka yang sudah setahun tak berjumpa, perjamuan makan untuk semua orang, api unggun di bawah langit yang berbintang, keluarga-keluarga berpesta, dan seluruh bangsa bersama sama merayakan pengampunan dan kebebasan.

Allah menggunakan hari-hari raya untuk mengajar umat-Nya bahwa ada hubungan erat antara aspek kehidupan rohani dan jasmani. Manakala mereka diberi kemakmuran dan berkat, maka mereka pun dapat bersukacita di hadapan Allah. Meskipun Allah memandang dosa sebagai hal yang serius, tetapi Dia juga Pribadi yang mengampuni dengan limpah dan menyediakan setiap kebutuhan kita. Dia bukanlah perusak sukacita! – HV

Rabu, 27 Juni 2007

Kolose 2:1-10

DUA PILIHAN

... berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia,

hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman ... hendaklah hatimu melimpah dengan syukur

(Kolose 2:7)

Coba bayangkan bila Anda diberi semangkuk pasir yang bercampur dengan butiran besi, lalu disuruh memisahkan keduanya. Anda memiliki dua pilihan. Anda dapat memasukkan jari ke dalam pasir dan hanya menemukan sangat sedikit butiran besi yang sulit dipegang, atau memasukkan magnet ke dalam pasir sehingga magnet itu menarik butiran besi yang tak terhitung banyaknya.

Seperti jari-jari di dalam pasir, hati yang bersungut-sungut juga hanya akan menemukan sangat sedikit berkat. Sebaliknya hati yang selalu bersyukur dalam menjalani kehidupan, akan menemukan berkat yang tak terhitung, seperti halnya magnet yang menemukan besi.

Dari semua pilihan yang kita buat dalam hidup ini, hanya sedikit yang dapat mempengaruhi kita begitu kuat seperti pilihan antara bersyukur dan bersungut-sungut. Suatu introspeksi yang jujur tentang hidup kita akan menunjukkan pilihan mana yang kita ambil. Jika kita memilih bersungut-sungut, maka kita mungkin hanya akan melihat sedikit berkat. Namun jika kita memilih untuk bersyukur, maka kita tidak hanya akan menemukan berkat yang besar, lebih lagi berkat berkat itu akan mencari kita!

Paulus mengajarkan bahwa hati yang melimpah dengan ucapan syukur berasal dari iman yang teguh (Kolose 2:7). Ia meminta kepada jemaat di Filipi, bahkan berulang kali: "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!" (4:4).

Pilihan apa yang Anda ambil? Bersungut-sungut atau bersyukur? Sungut-sungut menjauhkan kita dari berkat, tetapi ucapan syukur menemukan berkat di mana-mana, bahkan di tempat yang kering atau berpasir sekalipun! – J

Kamis, 28 Juni 2007

Galatia 5:1-6

MENANTIKAN KEKUDUSAN

Oleh Roh, dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan

(Galatia 5:5)

Novelis berkebangsaan Inggris, J.R.R. Tolkien pernah menulis, "Domba secara perlahan-lahan akan menjadi seperti gembalanya." Demikian pula pembaruan rohani manusia untuk menjadi seperti Kristus tidak dapat terjadi dalam waktu singkat, karena merupakan proses seumur hidup.

Agustinus (354-430 M) mengamati proses perubahan ini seperti pemulihan dari luka parah. "Membuang penyebab luka berbeda dengan memulihkan luka itu sendiri dengan perawatan yang lama dan penuh perhatian." Pemulihan rohani terjadi secara bertahap sejak cara berpikir dan hidup kita yang lama dihapuskan, dan kita menjadi seperti sang Juruselamat, ketika kita diperbarui dari hari ke sehari (2 Korintus 4:16).

Pembaruan ini terjadi bukan hanya karena usaha kita, tetapi juga oleh iman. Di dalam iman ini kita juga mesti membaca, merenungkan, dan menaati firman Allah. Kita harus mengarahkan pikiran kepada karakter Kristus, dan meminta agar Allah menjadikan kita serupa dengan-Nya.

Kita juga harus menanti dengan keyakinan bahwa Allah bekerja di dalam kita untuk menggenapi kehendak-Nya. Setiap hari kita akan menjumpai berbagai hal yang tidak sempurna, tetapi kita tidak boleh gelisah. Melalui ketidaksempurnaan, kita sedang diproses Allah. Dosa memang dapat menghalangi kita, tetapi Allah sedang bekerja dan sedang menyempurnakan "kebenaran yang kita harapkan" (Galatia 5:5). Kelak kita akan melihat wajah-Nya dan menjadi serupa dengan-Nya, kudus seperti Yang Mahakudus (1Yohanes 3:2) - DH

KELAHIRAN BARU BERLANGSUNG DI SATU SAAT

BERTUMBUH DALAM KEKUDUSAN DI SEPANJANG HAYAT

Jumat, 29 Juni 2007

Kisah Para Rasul 16:16-34

SEUTAS DAWAI

Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas

berdoa dan menyanyikan Puji-pujian kepada Allah

(Kisah Para Rasul 16:25)

Pemain biola Italia Niccol Paganini (1782-1840) sedang memainkan sebuah lagu yang sulit di hadapan sejumlah besar penonton. Tiba-tiba seutas dawai biolanya putus, tetapi ia tetap melanjutkan permainannya, berimprovisasi dengan indahnya. Kemudian dua utas dawai putus lagi dan ia menyelesaikan lagunya dengan bermain pada satu dawai saja.

Ketika tepuk tangan penonton berhenti, ia mengangguk pada dirigen untuk mengulang lagu itu demi memenuhi permintaan penonton. Pemain biola itu tersenyum pada penonton dan berseru: "Paganini . dan seutas dawai!" Sambil meletakkan alat musik itu di bawah dagunya, ia memainkan lagu itu lagi hanya dengan satu dawai.

Dengan merenungkan hal itu, Charles Swindoll menuliskan: "Makin lama aku hidup, makin yakinlah aku bahwa kehidupan terdiri dari sepuluh persen peristiwa yang terjadi pada kita dan sembilan puluh persen cara kita menanggapinya." Untuk mendukung pendiriannya dengan kebenaran Kitab Suci, Swindoll mengulas tentang sikap Paulus dan Silas selagi mereka dipasung di dalam penjara. Mereka tidak meratapi keadaan mereka, sebaliknya mereka menggunakan "seutas dawai" yang masih dimiliki - mereka berdoa dan menyanyikan lagu pujian kepada Allah (Kisah Para Rasul 16:25). Sebagai buah kesaksian mereka, kepala penjara dan seisi rumahnya diselamatkan dan dibaptis.

Apakah Anda mengizinkan kesengsaraan hidup membuat Anda berkecil hati atau bahkan lumpuh sama sekali? Dengan pertolongan Allah, gunakanlah "seutas dawai" yang masih Anda miliki sebaik mungkin – J

JIKA ANDA TETAP SELARAS DENGAN KRISTUS

DALAM KEKELAMAN PUN ANDA DAPAT MENYANYI

Sabtu, 30 Juni 2007

Yohanes 11:17-26

HIDUP DUA KALI

Akulah kebangkitan dan hidup

(Yohanes 11:25)

Di negara bagian Oregon, terdapat sebuah sungai kecil yang penuh dengan ikan forel bernama Sungai Riley. Nama itu diambil dari nama "Judge" Riley, seorang pemburu harta karun yang mencari emas di sana pada tahun 1800. Selama 40 tahun ia bekerja siang dan malam, tetapi ia tak pernah menemukan keberuntungan yang dicarinya.

Suatu pagi, rekannya menemukan suatu retakan bebatuan yang penuh emas di dekat perkemahan mereka. Ia pun segera berbalik dan berteriak, "Bangun, Riley! Kita kaya!" Akan tetapi, Riley tetap bergeming. Ia telah meninggal dalam tidurnya.

Kebanyakan orang juga hidup seperti Riley. Sepanjang hidup mereka bekerja untuk mencari nasib baik yang berupa kemakmuran atau kesenangan atau kebahagiaan, tetapi kemudian mereka meninggal. "Lalu mengapa kita terus seperti itu?" kita bertanya pada diri sendiri. Mengapa kita harus menghadapi rentetan kekecewaan yang tak ada habisnya di dunia, di mana kelak hidup setiap orang akan berakhir di bawah tanah? Semua tampaknya sia-sia.

Akan tetapi ada berita baik: Yesus yang telah mati kini bangkit kembali! Kebangkitan-Nya menjamin bahwa Allah akan membawa orang percaya dalam Kristus untuk bangkit dari kubur dan hidup selamanya (Yohanes 11:25,26). Kita tidak hanya hidup satu kali, melainkan dua kali! Kita hidup tidak hanya di dunia ini.

Itu berarti kita akan dapat menjalani sengsara yang ada sekarang ini. Kita dapat hidup dalam tubuh yang hancur dan rusak ini untuk sementara. Kita mampu menghadapi kesepian, sakit hati, dan penderitaan untuk sesaat. Kita tidak perlu "memiliki segalanya" dalam hidup ini. Ada kehidupan lain yang akan datang! - DH

Kisah Nyata

Catatan Harian Seorang Pramugari

Saya adalah seorang pramugari biasa dari China Airline, karena bergabung dengan perusahaan penerbangan hanya beberapa tahun dan tidak mempunyai pengalaman yang mengesankan, setiap hari hanya melayani penumpang dan melakukan pekerjaan yang monoton.

Pada tanggal 7 Juni yang lalu saya menjumpai suatu pengalaman yang membuat perubahan pandangan saya terhadap pekerjaan maupun hidup saya. Hari ini jadwal perjalanan kami adalah dari Shanghai menuju Peking , penumpang sangat penuh pada hari ini.

Diantara penumpang saya melihat seorang kakek dari desa, merangkul sebuah karung tua dan terlihat jelas sekali gaya desanya, pada saat itu saya yang berdiri dipintu pesawat menyambut penumpang kesan pertama dari pikiran saya ialah zaman sekarang sungguh sudah maju seorang dari desa sudah mempunyai uang untuk naik pesawat.

Ketika pesawat sudah terbang, kami mulai menyajikan minuman, ketika melewati baris ke 20, saya melihat kembali kakek tua tersebut, dia duduk dengan tegak dan kaku ditempat duduknya dengan memangku karung tua bagaikan patung.

Kami menanyakannya mau minum apa, dengan terkejut dia melambaikan tangan menolak, kami hendak membantunya meletakan karung tua diatas bagasi tempat duduk juga ditolak olehnya, lalu kami membiarkannya duduk dengan tenang, menjelang pembagian makanan kami melihat dia duduk dengan tegang ditempat duduknya, kami menawarkan makanan juga ditolak olehnya.

Akhirnya kepala pramugari dengan akrab bertanya kepadanya apakah dia sakit, dengan suara kecil dia mejawab bahwa dia hendak ke toilet tetapi dia takut apakah dipesawat boleh bergerak sembarangan, takut merusak barang didalam pesawat.

Kami menjelaskan kepadanya bahwa dia boleh bergerak sesuka hatinya dan menyuruh seorang pramugara mengantar dia ke toilet, pada saat menyajikan minuman yang kedua kali, kami melihat dia melirik ke penumpang disebelahnya dan menelan ludah, dengan tidak menanyakannya kami meletakan segelas minuman teh dimeja dia, ternyata gerakan kami mengejutkannya, dengan terkejut dia mengatakan tidak usah, tidak usah, kami mengatakan engkau sudah haus minumlah, pada saat ini dengan spontan dari sakunya dikeluarkan segenggam uang logam yang disodorkan kepada kami, kami menjelaskan kepadanya minumannya gratis, dia tidak percaya, katanya saat dia dalam perjalanan menuju bandara, merasa haus dan meminta air kepada penjual makanan dipinggir jalan dia tidak diladeni malah diusir.

Pada saat itu kami mengetahui demi menghemat biaya perjalanan dari desa dia berjalan kaki sampai mendekati bandara baru naik mobil, karena uang yang dibawa sangat sedikit, hanya dapat meminta minunam kepada penjual makanan dipinggir jalan itupun kebanyakan ditolak dan dianggap sebagai pengemis.

Setelah kami membujuk dia terakhir dia percaya dan duduk dengan tenang meminum secangkir teh, kami menawarkan makanan tetapi ditolak olehnya.

Dia menceritakan bahwa dia mempunyai dua orang putra yang sangat baik, putra sulung sudah bekerja di kota dan yang bungsu sedang kuliah ditingkat tiga di Peking . anak sulung yang bekerja di kota menjemput kedua orang tuanya untuk tinggal bersama di kota tetapi kedua orang tua tersebut tidak biasa tinggal dikota akhirnya pindah kembali ke desa, sekali ini orang tua tersebut hendak menjenguk putra bungsunya di Peking, anak sulungnya tidak tega orang tua tersebut naik mobil begitu jauh, Sehingga membeli tiket pesawat dan menawarkan menemani bapaknya bersama-sama ke Peking, tetapi ditolak olehnya karena dianggap terlalu boros dan tiket pesawat sangat mahal dia bersikeras dapat pergi sendiri akhirnya dengan terpaksa disetujui anaknya.

Dengan merangkul sekarung penuh ubi kering yang disukai anak bungsunya, ketika melewati pemeriksaan keamanan dibandara, dia disuruh menitipkan karung tersebut ditempat bagasi tetapi dia bersikeras membawa sendiri, katanya jika ditaruh ditempat bagasi ubi tersebut akan hancur dan anaknya tidak suka makan ubi yang sudah hancur, akhirnya kami membujuknya meletakan karung tersebut di atas bagasi tempat duduk, akhirnya dia bersedia dengan hati-hati dia meletakan karung tersebut.

Saat dalam penerbangan kami terus menambah minuman untuknya, dia selalu membalas dengan ucapan terima kasih yang tulus, tetapi dia tetap tidak mau makan, meskipun kami mengetahui sesungguhnya dia sudah sangat lapar, saat pesawat hendak mendarat dengan suara kecil dia menanyakan saya apakah ada kantongan kecil? dan meminta saya meletakan makanannya di kantong tersebut. Dia mengatakan bahwa dia belum pernah melihat makanan yang begitu enak, dia ingin membawa makanan tersebut untuk anaknya, kami semua sangat kaget.

Menurut kami yang setiap hari melihat makanan yang begitu biasa dimata seorang desa menjadi begitu berharga.

Dengan menahan lapar disisihkan makanan tersebut demi anaknya, dengan terharu kami mengumpulkan makanan yang masih tersisa yang belum kami bagikan kepada penumpang ditaruh didalam suatu kantongan yang akan kami berikan kepada kakek tersebut, tetapi diluar dugaan dia menolak pemberian kami, dia hanya menghendaki bagian dia yang belum dimakan tidak menghendaki yang bukan miliknya sendiri, perbuatan yang tulus tersebut benar-benar membuat saya terharu dan menjadi pelajaran berharga bagi saya.

Sebenarnya kami menganggap semua hal tersebut sudah berlalu, tetapi siapa menduga pada saat semua penumpang sudah turun dari pesawat, dia yang terakhir berada di pesawat. Kami membantunya keluar dari pintu pesawat, sebelum keluar dia melakukan sesuatu hal yang sangat tidak bisa saya lupakan seumur hidup saya, yaitu dia berlutut dan menyembah kami, mengucapkan terima kasih dengan bertubi-tubi, dia mengatakan bahwa kami semua adalah orang yang paling baik yang dijumpai, kami di desa hanya makan sehari sekali dan tidak pernah meminum air yang begitu manis dan makanan yang begitu enak, hari ini kalian tidak memandang hina terhadap saya dan meladeni saya dengan sangat baik, saya tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih kepada kalian. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian, dengan menyembah dan menangis dia mengucapkan perkataannya. Kami semua dengan terharu memapahnya dan menyuruh seseorang anggota yang bekerja dilapangan membantunya keluar dari lapangan terbang.

Selama 5 tahun bekerja sebagai pramugari, beragam-ragam penumpang sudah saya jumpai, yang banyak tingkah, yang cerewet dan lain-lain, tetapi belum pernah menjumpai orang yang menyembah kami, kami hanya menjalankan tugas kami dengan rutin dan tidak ada keistimewaan yang kami berikan, hanya menyajikan minuman dan makanan, tetapi kakek tua yang berumur 70 tahun tersebut sampai menyembah kami mengucapkan terima kasih, sambil merangkul karung tua yang berisi ubi kering dan menahan lapar menyisihkan makanannya untuk anak tercinta, dan tidak bersedia menerima makanan yang bukan bagiannya, perbuatan tersebut membuat saya sangat terharu dan menjadi pengalaman yang sangat berharga dan suatu pembelajaran untuk saya dimasa datang yaitu jangan memandang orang dari penampilan luar tetapi harus tetap menghargai setiap orang dan mensyukuri apa yang kita dapat. – millis